Legalitas Kayu Indonesia diragukan Eropa

Advertisement
Penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) belum sepenuhnya berjalan. Hingga saat ini, masih ada produk kayu yang tidak wajib SVLK. Hal ini mendapat respon negatif dari dunia Internasional lantaran Indonesia dianggap belum berkomitmen menjaga kelestarian alam.

Alhasil, produk dan olahan kayu Indonesia yang diekspor ke Uni Eropa harus dikenakan uji tuntas alias due diligence. Demikian disampaikan Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Ida Bagus Putera, dalam diskusi bertema Dialog Mingguan Inisiasi Gerakan Beli Kayu Legal di Kantor Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Jakarta, Jumat (18/3/2016).

"Sebenarnya tahun 2013 SVLK sudah mulai diterapkan. Namun belum diwajibkan semua. Ini dianggap, Indonesia belum berkomitmen dengan janjinya sendiri untuk menjaga kelestarian. Makanya kita akhirnya diganjar dengan due diligence sebagai cara mereka untuk memastikan sendiri legalitas kayu yang masuk ke negara mereka," ujar dia dalam diskusi tersebut.

Perlu diketahui, sertifikat SVLK merupakan bukti bahwa kayu yang dijual maupun kayu yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan furnitur dan mebel adalah legal alias bukan berasal dari hasil penebangan liar (illegal logging). Ia mengatakan, Uni Eropa sempat berencana mengajukan usulan kepada Parlemen untuk membahas SVLK sebagai dokumen legal yang diakui di negara-negara Eropa.

"Tapi begitu mereka dengar ada produk yang masih diperbolehkan diekspor tanpa perlu SVLK, akhirnya mereka mundur. Tidak jadi mengajukan usulan itu. Saya bisa mengerti karena mereka bilang buat apa kami memperjuangkan negara yang bahkan belum konsisten dengan komitmen internal negaranya sendiri," tutur dia.

Sertifikat SVLK sebenarnya dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, namun kebijakan penerapannya ada di tangan Kementerian Perdagangan. Untuk itu, ia mengharapkan, ada kerja sama antar berbagai pihak untuk konsisten menerapkan aturan tersebut. Pasalnya, bila produk kayu dan olahan kayu Indonesia tidak diakui, maka akan sulit masuk ke pasar internasional.

"Khawatirnya, tidak hanya berhenti sampai di kayu. Khawatirnya nanti produk Indonesia yang lain kena getahnya. Kita kan banyak ekspor, apakah itu sawit dan sebagainya. Kalau dianggap ilegal semua, repot kita. Kemudian, kalau Eropa itu tidak mengakui, khawatirnya diikuti negara-negara lain. Berat kita," pungkas Putera.
Advertisement

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Legalitas Kayu Indonesia diragukan Eropa"

Post a Comment

Silahkan Isi Nama lengkap dan Email untuk berkomentar.