Melawan Wahhabi dengan Ilmu dan Kecerdikan

Advertisement
Jember - Dalam rangka meningkatkan wawasan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, Jawa Timur menggelar “Dauroh Aswaja Internasional” dengan menghadirkan pemateri guru besar Global University Beirut, Syaikh DR. Samir Khauli al-Husainy. Acara yang dihelat di auditorium Universitas Islam Jember (UIJ) itu dihadiri oleh 200-an peserta yang terdiri dari para kiai dan pengurus NU di Jawa Timur dan Propinsi lainnya.

Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin menekankan pentingnya pengurus NU di seluruh Indonesia umumnya dan di Jember Jawa Timur Khususnya untuk meningkatkan wawasan ke-Aswaja-an global. Sebab, ancaman yang dihadapi NU Indonesia sama dengan yang dihadapi Ahlussunah wal Jama’ah di negara Timur Tengah. Yaitu kelompok radikal, dalam hal ini Salafi Wahhabi dan kelompok radikal lainnya. 

Menurut Gus Aab –sapaan arkabnya-- untuk menghadapi keusilan kaum Salafi tidak hanya dibutuhkan ilmu dan wawasan yang luas, tapi juga kecerdikan. Gus Aab lalu bercerita soal seseorang warga Madura yang bertahun-tahun merantau ke Arab Saudi.

Suatu ketika, orang tersebut pulang kampung. Merasa sudah hebat, ia menantang seorang kiai dengan mengajukan 3 persoalan.

“Kalau sampeyan bisa menjawab pertanyaan saya, saya akan berguru kepada sampeyan,” tukas Gus Aab menirukan ucapan orang tersebut. Salah satu dari 3 persoalan yang dia ajukan adalah bahwa setan dan jin tidak akan mempan dibakar api neraka. Mengapa? Karena setan dan neraka terdiri dari bahan yang sama, yaitu api. Jadi, dalam pandangan dia, api neraka tidak mungkin bisa membakar setan dan jin. Untungya, lanjut Gus Aab, kiai tersebut cerdik dan alim.

Begitu selesai mengajukan pertanyaan, si kiai langsung menampar orang tersebut hingga pingsan. Setelah siuman, si kiai bertanya bagaimana rasanya ditempeleng? Dia menjawab sakit. Bahkan dia mengaku sangat sakit.

“Lho kok bisa, tangan saya dan pipi Anda, bahannya sama, yaitu kulit, tulang dan daging. Tapi kok anda merasa sakit,” ujar Gus Aab menirukan kata-kata kiai tersebut. Rupanya kiai itu cerdik dan pintar.

Menurut Gus Aab, Untuk menghadapi kaum radikal dan kalangan yang kesukaannya menyerang amaliah warga NU, diperlukan kecerdikan, walaupun harus menghindari perbuatan kasar.

“Dan saya yakin Syaikh DR. Samir Khauli al-Husainy, juga sosok yang alim dan cerdik,” ungkapnya. Sementara itu, dalam ceramahnya, Syaikh DR. Samir Khauli al-Husainy mengingatkan warga NU agar selalu mewaspadai gerakan kelompok radikal seperti Salafi wahabi yang selalu mengkafirkan selain golongannya. Sebab, di negara mana pun mereka berada, nyaris selalu membikin ulah.

“Beruntunglah Indonesia selalu damai, maka marilah kita rawat kedamaian itu,” tukasnya dalam bahasa Arab. Dalam kesempatan tersebut, Syaikh DR. Samir Khauli al-Husainy berkenan memberikan 4 kitab Aswaja kepada masing-masing peserta, yang langsung dibawanya dari Beirut, Lebanon. KartiniNews.Com
Advertisement

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Melawan Wahhabi dengan Ilmu dan Kecerdikan"

Post a Comment

Silahkan Isi Nama lengkap dan Email untuk berkomentar.