Muhammad Amir, Penderita Hidrosefalus Terus Memburuk

Advertisement
Jepara - Muhammad Amir, Penderita Hidrosefalus di Jepara terus mengalami penurunan. Muhammad Amir ini anak dari Ibu Marsitoh.

Muhammad Amir ini kini berusia 14 tahun dan menderita penyakit Hidrosefalus. Penyakitnya ini tak kunjung sembuh dari penyakit hidrosefalus sejak lahir 14 tahun silam. Air mata Marsitoh tak bisa dibendung, ketika menunjukkan keadaan putranya di atas tempat tidur berukuran sekitar 3×4 meter di dalam kamar. Ia pun masih tersenyum, meski kedua pipinya basah dengan air mata.

Sementara Amir, hanya terbaring di tempat tidurnya. Tubuh Amir kurus kecil. Juga tangan dan kakinya. Dua kakinya bahkan sudah tidak bisa diselonjorkan. Marsitoh bilang, saraf kaki Amir sudah tidak berfungsi. Sehingga, meski berbaring kaki Amir seperti dalam posisi bersila. Begitu pula kedua tangannya. Anak sulung perempuan warga RT 20/ RW 6, Desa Bandengan, Kecamatan Jepara Kota.

Hidrosefalus merupakan penyakit yang menyerang organ otak. Ia mengalami penumpukan cairan di otaknya. Akibatnya, selain terganggu dalam berpikir, kepala Amir terus bertambah besar. Suami dari ibu Marsitoh sudah meninggal ketika Amir masih di dalam kandungan. Sementara anak sulungnya sudah menikah dan tinggal bersama istrinya.

Masitoh menceritakan, putranya menderita Hidrosefalus sejak dalam kandungan. Amir yang lahir dengan operasi cesar itu sudah memiliki kelainan sejak masih dalam kandungan. Namun, kondisi itu baru diketahui setelah melahirkan.

“Saya tahu anak saya ada kelainan dan terkena penyakit setelah dua hari setelah melahirkan. Ketika saya lahir saya memang tidak diberi tahu kondisi anak saya. Saya tahu sendiri setelah dua hari,” katanya.

Amir sudah pernah menjalani operasi waktu masih berumur 40 hari. Namun operasi tidak bisa menghilangkan penyakitnya. Kepalanya terus membesar sedangkan tubuhnya tidak ada perubahan hingga sekarang. Sehari-hari Amir hanya berbaring ditempat tidur. Ia tak bisa berjalan. Juga tak bisa bicara. Matanya tida bisa melihat. Sejak kecil Amir hanya makan bubur dan susu. Itupun dengan didulang ibunya.

“Jika menangis anaknya kejang-kejang,” ujar Masitoh.

Waktu masih kecil hingga usia 10 tahun seringkali dibawa ke rumah sakit. Biaya pengobatan mengadalkan BPJS. Saat ini Masitoh memilih merwatnya di rumah saja. Karena setelah puluhan kali ke rumah sakit tidak ada perubahan.

“Saya bawa ke rumah sakit hanya ketika sakit dan tidak mau makan. Kalau hanya sakit demam atau pilek saya obati sendiri pakai sirup dan salep untuk luka di kepalanya. Saya beli obat di apotik,” katanya. KartiniNews.Com.
Advertisement

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Muhammad Amir, Penderita Hidrosefalus Terus Memburuk"

Post a Comment

Silahkan Isi Nama lengkap dan Email untuk berkomentar.