TRENDING

Tanah Bergerak di Kabupaten Tegal Harus Menjadi Perhatian Penting Bagi Pemerintah dan Para Peneliti

 Tegal - Fenomena tanah bergerak di Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal haruslah menjadi perhatian penting. Karena bisa jadi terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Oleh karena itu, harus terjun para peneliti untuk mengkaji perubahan tanah dan juga untuk memberikan informasi kepada masyarakat agar tidak terjadi hal serupa seperti di Kabupaten Tegal. 


Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka telah melakukan peninjauan secara langsung kondisi pengungsi dan juga lokasi terdampak bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah (Jateng), pada Jumat (06/02/2026).

​Hasil kunjungan Wapres, melaporkan bahwa pemerintah memprioritaskan keselamatan jiwa warga di atas segalanya. Wapres pun meminta warga untuk tidak memaksakan diri kembali ke rumah asal masing-masing karena kondisi geologi tanah yang masih labil dan sangat berbahaya.

Menurut penelitian ilmu Geografi, ada berbagai jenis tanah yang memiliki karakteristik dan sifat yang tidak sama satu dengan yang lain. Sifat dan karakteristik tanah ini juga saling berhubungan dengan cara pemanfaatannya. Sedangkan tanah yang bergerak memiliki beberapa penyebab yang sudah diklasifikasikan dalam teori geologi. Ada beberapa penyebab tanah tersebut dapat bergerak, yaitu diantaranya:

1. Erosi.

Tanah yang bergerak akibat erosi ini memiliki beberapa penyebab. Penyebab erosi ini bisa berasal dari berbagai jenis air tanah yang ada didalamnya. Salah satunya adalah erosi yang ditimbulkan oleh air hujan. 

Pada umumnya, pergerakan tanah yang disebabkan oleh erosi ini dapat ditemukan di lereng-lereng bukit yang curam. Hal ini bisa terjadi ketika vegetasi yang ada pada daerah tersebut bisa dikatakan sangat minim. Hal ini akan menjadi sangat berbahaya apabila terjadi pada saat musim hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. Dan salah satu usaha untuk mengurangi erosi tanah adalah dengan penanaman vegetasi kembali.

2. Tanah Jenuh Air

Indonesia dikenal dengan daerah hujan tropis, dimana air hujan turun di saat musin hujan, yaitu sekitar enam bulan. Dan air hujan ini terkadang membuat banjir dan juga menjadikan banjir bandang di beberapa daerah. 

Sedangkan tanah yang mampu menyerap air dengan cepat menjadi sangat berbahaya ketika musim hujan tiba. Hal ini dikarenakan ketika intensitas hujan tinggi,akan berbanding dengan laju penyerapan tanah yang tinggi pula. Ketika tanah tersebut telah mencapai titik jenuhnya, maka ada kemungkinan tanah akan kehilangan daya penopang. Hal inilah yang sering terjadi pada beberapa bencana yang berupa tanah ambles, atau retak dan bergerak. 

3. Gempa bumi

Penyebab pergerakan tanah karena gempa bumi adalah adanya pergerakan pada lempeng tektonik bumi. Gempa bumi ini dapat mengakibatkan penurunan permukaan tanah dan juga likuifaksi. Gempa bumi sendiri merupakan salah satu jenis bencana alam yang bisa dikatakan sangat menyebar rata di Indonesia. Terjadinya gempa bumi ini tidak memiliki hubungan terhadap jenis dan karakteristik tanah. Hal ini dikarenakan kekuatannya yang terkadang cukup besar maka efek negatif yang timbul akan berbeda-beda.

Ketiga faktor secara garis besar ini, bisa dikaji kembali dengan berbagai penelitian, dan lainnya. Hal ini diperlukan untuk mencegah tanah itu untuk dijadikan tempat tinggal atau lainnya. Dan juga sebagai alarm bagi yang menempati tanah yang berpotensi bergerak.

Pada kasus yang terjadi di Kabupaten Tegal, Bupati Tegal telah melaporkan bahwa tercatat ada sebanyak 464 rumah yang terdampak, dengan 250 di antaranya rumahnya rusak berat. Dan sekarang ini, sekitar 2.426 jiwa mengungsi di empat posko utama. ​Bupati Tegal juga menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Tegal telah menyiapkan rencana relokasi ke lahan milik Perhutani yang dinilai lebih stabil dan aman.

​Menurut Kementrian ESDM, fenomena tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah dipicu oleh adanya creeping atau rayapan tanah. Dan Creeping ini adalah jenis tanah longsor. 

Apa Itu Creeping? 

Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Agus Sugiharto menjelaskan bahwa hasil kajian lapangan menunjukkan pergerakan tanah di Tegal ini adalah gerakan tanah longsor yang lambar tetapi beruntun, dan ini merupakan creeping. 

“...dari sisi geologi hasil investigasi dan kajian ini tanah bergerak jenis creeping, lapisan tanahnya itu jenisnya clay atau lempung, kemudian kena air dan merayap, pelan-pelan geraknya,” kata Agus, Senin (9/2/2026).

Creeping merupakan salah satu jenis pergerakan tanah yang umumnya terjadi di wilayah luas dan memiliki kemiringan. Pergerakannya memang lambat, tetapi berlangsung terus-menerus sehingga berdampak pada bangunan di atasnya. 

Berbeda dengan likuifaksi yang terjadi akibat perubahan struktur tanah dan kadar air yang menyebabkan tanah kehilangan kekuatan, tanpa harus berada di lereng. Namun creeping, membutuhkan kemiringan lahan dan berlangsung secara bertahap. 

Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Dwikorita Karnawati pun menilai wilayah terdampak di Kabupaten tegal tersebut sudah tidak lagi layak dihuni karena kondisi tanah yang terus bergerak. Dwikorita menjelaskan bahwa wilayah tersebut memiliki lapisan lempung abu-abu kebiruan atau dikenal dengan lempung biru. Lapisan ini mengandung mineral montmorillonite yang sangat ekspansif. 

Dwikorita juga menjelaskan bahwa saat lapisan lempung tersebut jenuh air akibat curah hujan tinggi, tanah kehilangan daya dukung dan berubah menjadi sangat lunak. Kondisi ini menyebabkan bangunan di atasnya seolah bergerak atau amblas mengikuti lapisan tanah di bawahnya. 

Selain faktor geologi, Dwikorita juga menyoroti peningkatan intensitas hujan dan beban bangunan sebagai pemicu percepatan pergerakan tanah. Perubahan iklim dinilai membawa curah hujan yang melampaui kapasitas stabilitas tanah di kawasan tersebut. 

Oleh karena itu, menurut Dwikorita, langkah relokasi menjadi opsi paling rasional. Terlebih pada kawasan yang telah mengalami kerusakan parah untuk tidak lagi dijadikan permukiman. 

“Itu akan terus bergerak. Jadi, itu berbahaya kalau sampai rumah-rumah roboh itu.,” jelasnya. 

Fenomena tanah bergerak di Kabupaten Tegal akibat creeping menunjukkan pentingnya pemahaman kondisi geologi sebelum pembangunan permukiman. Lapisan lempung biru yang ekspansif, curah hujan tinggi, serta beban bangunan menjadi kombinasi yang mempercepat bencana. (Red)

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image